Rabu, 10 Juni 2015

Ksatria Tanpa Nyonya

Diposting oleh Unknown di 14:47
Dan kini, setelah baju zirahnya dibersihkan, bagian kepalanya diperbaiki jadi sebuah topi baja, kuda, dan dirinya sendiri punya nama baru, ia berpikir tak ada lagi yang ia inginkan kecuali seorang nyonya, pada siapa ia anugerahkan kekaisaran hatinya; sebab ia sadar bahwa seorang ksatria tanpa istri adalah sebatang pohon tanpa buah dan daun, dan sebongkah tubuh tanpa jiwa.

(Miguel de Cervantes Saavedra—Don Quixote)

Jumat, 20 Februari 2015

Diposting oleh Unknown di 16:44

For you, My One Magical Word

Diposting oleh Unknown di 15:29
Rasa kecewaku adalah tiada duanya.

Kamu adalah orang yang kupercaya selama hampir dua tahun ini. Orang yang selalu ingin kudahulukan, lebih dari siapapun. Kamu membuat semangatku bangkit hanya dengan beberapa kata sederhana saja. Dan kemudian kamu menghancurkanku hanya dengan kata-kata yang lebih sederhana lagi.
            Awalnya, kupikir kamu mendukungku dengan berkata bahwa kamu akan membaca bukuku. Sejak saat itu, aku mulai proaktif untuk menanyakan kabar naskahku dengan penerbit—bahwa kira-kira kapan bukuku bisa terbit. Dan setelah menanti panjang hingga buku itu terbit, aku ingin kamulah orang yang pertama kali kuberitahu.
            Kupikir kamu akan merespon dengan sangat baik, memberi dukungan atau semacamnya. Karena untuk mengirim pesan kepadamu saja, aku harus melawan rasa malu dan rasa tidak percaya diriku. Namun setelah dengan rasa berdebar-debar menunggu jawaban pesanku, jawaban darimu benar-benar membuatku kecewa.
            Walaupun aku masih ingat benar kapan terakhir kali kamu membuatku kecewa, kupikir ini yang lebih mengecewakan.
            Maksudku, janganlah membuatku menyesal karena telah melakukan ini. Setelah melihat jawabanmu, aku merasa telah melakukan hal yang paling memalukan.
            Maksudku, janganlah bersikap sebegitu acuh. Bila aku benar-benar hanya temanmu, maka perlakukan aku seperti kebanyakan temanmu.
            Sebenarnya, apa salahku?
            Mengapa kamu sering sekali menertawakanku?
            Ini tidak adil buatku. Bila kamu saja yang kubanggakan, bila kamu saja orang yang bisa membuatku berusaha melihat sisi baik darimu ketika kamu melakukan hal yang menurutku salah, bila hanya kamu saja laki-laki yang sampai saat ini kusadari bahwa aku merasakan kagum lebih dari aku melihat laki-laki lain, bila hanya kamu yang kusuka, mengapa kamu tidak bisa memperlakukanku sebaik kamu memperlakukan perempuan-perempuan lain yang juga menyukaimu?
            Tidakkah kamu tahu bahwa setiap hal kecil yang kamu lakukan akan selalu kuingat?
            Mengapa yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mengecewakanku?
            Ini pertanyaan terakhirku, apakah kamu membenciku?

Surabaya, 20 Februari 2015

Minggu, 28 September 2014

Seperti Lilin

Diposting oleh Unknown di 21:34

Namaku sebelumnya tidak berarti apa-apa. Nama itu hanya penggalan nama kedua orang tuaku yang lalu dipadukan. Dian Agustin yang berarti Dian yang lahir di Bulan Agustus. Nama yang terdiri dari lima suku kata, sesuai dengan tanggal lahirku—entah kebetulan atau tidak.
            Namun setelah beberapa bulan belakangan, nama itu menjadi pelajaran berharga dalam hidup 16 tahun ini. Nama itu bermakna dan maknanya memberi pelajaran. Dian yang berarti pelita—atau biasa dikenal dengan kata lilin.
            Apa yang istimewa dari lilin?
            Sebenarnya makna apa yang begitu memberi pelajaran baru dalam hidup?
            Ia hanya setiupan api. Nyala yang kecil. Namun karena itulah aku ingin mewujudkan makna yang terkandung dalam sebuah nama. Lilin adalah nyala kecil di kegelapan, pemberi cahaya di kegelapan. Menjadi pelita.
            Aku ingin menjadi setitik cahaya bagi kegelapan orang-orang terdekatku. Menjadi angan dan perwujudan di atas hadirnya kegelapan. Terlebih, aku ingin menjadi pelita bagi Ayah, menjadi nyala kecil cahaya bagi Ibu.
            Aku yang pernah menjadi dambaan bagi orang tuaku, kedua mutiara hidup. Aku ‘membiarkan’ mereka mendambaku selama tujuh tahun pasca pernikahan mereka. Setelah tujuh tahun mendamba, aku hadir dalam bentuk dambaan yang menjadi kenyataan. Mungkin itulah kali pertamaku menjadi pelita bagi Ayah dan Ibu.  Aku dalam wujud dari pendambaan yang lama.
            Dan untuk sekali lagi, aku ingin menjadi pelita. Kali ini, aku ingin bukan hanya untuk mereka , namun untuk mereka yang lebih banyak lagi—teman-teman dan orang-orang tersayang. Aku ingin menjadi pelita, nyala kecil api di atas lilin. Menjadi pelita yang lahir di Bulan Agustus.

Gresik, 28 September, 2014
d'ags

Senin, 04 Agustus 2014

As may God grant you to be loved again

Diposting oleh Unknown di 21:49
Engkau kucintai; cinta, barangkali;
Belum begitu sirna di jiwaku;
Tetapi biarkanlah ia lebih banyak tidak mengusikmu;
Aku tak mau mendukakanmu sebintik pun
Engkau kucintai dengan diam-diam, dengan tanpa pengharapan,
Kadang dengan ketakutan, kadang dengan kelembutan
kita menyiksanya
Kucintai kau dengan tulus yang sangat,
dengan lembut yang sangat
Demikianlah Tuhan menganugrahimu
untuk dicintai oleh yang lain

Kucintai Kau
Alexander Sergeyevich Pushkin

I loved you, and I probably still do,
And for a while the feeling may remain,
But let my love no longer trouble you,
I do not wish to cause you any pain.
I loved you, and the hopelessness I knew,
The jealously, the shyness
tough in vain
Made up a love so tender and do true
As may God grant you to be loved again.

I Loved You
Alexander Sergeyevich Pushkin

Jumat, 23 Mei 2014

Obliviate

Diposting oleh Unknown di 22:01
Di antara kebingungan dan pandangan yang mengabur, aku melihat seseorang berlari ke arahku.

Aku tidak benar-benar yakin seseorang itu berlari ke arahku karena banyak orang berjalan di sekelilingku saat itu.
Tapi tidak, seseorang itu benar-benar berlari ke arahku.
Semakin dekat hingga yang bisa kurasakan saat itu adalah fantasi aneh yang masih tak kumengerti hingga saat ini. Aku hanya belum pernah merasakannya.
Saat itu, aku menyadari satu hal: selama ini aku hanya mengumpulkan pembelaan untuk menyangkal, tanpa berani mengakui bahwa aku masih menyukainya. Sangat.
Setelahnya aku tidak tahu apakah mantera ‘obliviate’ masih berlaku untuknya atau tidak. Ataukah memang sudah habis masanya?
Sebenarnya tidak masalah, aku memang tidak berniat untuk mengisi ulang atau memperpanjang masanya.
Kupikir dia memang anti-mantera.

Obliviate. 


Gresik, 23 Mei 201422:01

Kamis, 27 Februari 2014

(Bukan) Karena Denpasar Takdirku

Diposting oleh Unknown di 13:54
Aku pertama kali bertemu dengannya di hari pertama liburanku ke Bali. Ya, laki-laki yang menyelamatkan hatiku. Membuatku sembuh dari luka batin karena menjadi wanita yang tak terpilih—ah, kupikir gelar itu memang pantas untukku. Ini bukan karena aku pengecut—bukan karena aku ingin melarikan diri. Tapi, membuat batin terus menerus terluka juga tidak baik. Mungkin kata ‘menghindar’ lebih cocok untuk mengkondisikan situasiku saat ini. Walaupun aku sudah (mencoba) menerima semua ini, bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa ketika melihat mereka bersama. Aku hanya butuh waktu.
            Kebetulan, dia adalah tour guide-ku selama di Pulau Bali. Sebenarnya, ini bukan kali pertamanya aku menginjakkan kaki di Pulau Seribu Pura. Tapi entah bagaimana, kali ini aku berniat untuk menggunakan jasa tour guide. Aku memanggilnya Bli Putu. Seperti orang Bali pada umumnya: dia tampan dan manis. Pertama kali bertemu dengannya, langsung saja aku memberi nilai plus tujuh untuknya. Dia sangat ramah juga senang sekali tersenyum—aku bertanya-tanya, mengapa setiap kali melihatnya tersenyum, bibirku secara otomatis juga ikut melengkung? Penilaianku terhadapnya naik menjadi delapan setelah mengetahui dia juga mempunyai lesung pipit.
            Keadaan hatiku yang tidak begitu baik membuatku lebih banyak diam. Entah kebetulan atau bagaimana, justru Bli Putu lah yang seringkali berbicara—di luar tugasnya sebagai tour guide. Mungkin inilah yang membuatku cepat sekali akrab dengannya.
“Mengapa banyak wanita yang rela meneteskan air matanya untuk pria yang sebenarnya tak pantas ditangisi? Menurutmu bagaimana?” katanya saat itu sambil berkerut samar.
Aku justru terdiam sembari memandangi deburan ombak Pantai Kuta yang saling berkejaran. Semburat cahaya oranye berpendar-pendar dalam ingatanku. Seharusnya ini adalah momen terindah: ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Seharusnya aku bahagia karena berhasil menyaksikan matahari tenggelam di Pantai Kuta. Namun mengapa yang kurasakan hanyalah sesak? Kupejamkan kedua mataku sejenak saat hatiku kembali disesaki pilu. Aku kembali merasakan sebuah kenyataan yang lagi-lagi menamparku. Kenyataan bahwa aku adalah wanita yang tak terpilih.
Dengan seutas senyum getir yang terukir di bibir, kujawab pertanyaannya dengan sangat sederhana, “Karena mereka merasa tersakiti…,” Aku menatap udeng merah bermotif batik di atas kepalanya saat menjawab. Dia masih tidak mengerti dan memintaku untuk menjelaskan melalui gerakan matanya. “…menurutmu apa yang pertama kali mereka lakukan saat disakiti? Pergi ke kelab lalu minum cocktail?  Yang mereka percaya saat itu hanya satu: orang yang disayang telah tega melukai.”
Aku memejamkan mata lagi, mencegah air mata yang rasanya ingin jatuh. Saat itu, yang bisa kudengar hanyalah suara gemeretak hatiku yang hancur berkeping-keping. Segala kesedihan di dalam hati telah hancur menjadi debu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir melihat perubahan air mukaku. Kuangkat wajahku untuk menatapnya.
“Aku ingin mengaku … aku bukan wanita munafik yang akan bilang aku baik-baik saja. Bli, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?”
Aku tidak ingat, apakah saat itu aku memikirkan rasa malu atau tidak. Yang kuingat, hari itu aku menangis di pelukannya.
***
“Hari ini kita akan ke mana?” tanyaku sambil meneliti peta di tangan. Kuangkat mukaku karena aku tak mendengar jawaban Bli Putu. Ia tampak berpikir sambil menggosok-gosok dagunya yang licin. Seperti ada yang menggelitik ketika melihat ekspresi seriusnya itu.
            “Kau ingin ke Bedugul atau ke Tanah Lot?” gumamnya. Aku mengernyit, mengapa Bli Putu bertanya kembali kepadaku? “Maksudku, dua-duanya adalah objek yang sangat menarik. Aku ingin tahu, mana yang lebih kausukai?”
            Aku tersenyum tipis. “Kurasa, aku ingin ke Bedugul dulu.”

Karena Bedugul berada di ketinggian lebih dari seribu meter, setiap harinya objek wisata ini selalu diselimuti kabut. Selain itu, kawasan ini akan sejuk sepanjang hari.
            Keindahan alam yang tak ingin kulewatkan juga bisa dinikmati melalui jendela besar yang terbuat dari kaca sebuah kafetaria di dekat danau. Adalah yang sangat menyenangkan bila ditemani dengan minuman hangat.
            “Hari ini, biarkan aku meneraktirmu. Kau mau pesan apa?” tanyanya seperti pelayan saja. Aku mengangkat kedua alisku sambil berkata, “Terserah kau saja.”
            “Mm, begini saja, apa minuman kesukaanmu?”
            Aku mengangkat bahu, “Aku tidak tahu. Mm, aku minum apa saja.”
            “Bagaimana bisa tidak tahu? Lalu, minuman kesukaan ibumu, apa kau tahu?”
            “Tentu. Kopi hitam.”
            “Adik laki-lakimu?”
            “Mm, dia sering memesan americano. Sering sekali. Kurasa itu minuman kesukaannya,” kataku membuat ekspresi aneh di wajah Bli Putu. Aku mengernyit tidak mengerti. Memangnya aku salah bicara, ya?
            “Astaga! Lihatlah, kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri!”
            Aku tertegun. “Apa maksudmu?”
            “Kau sangat paham dengan apa yang disukai orang-orang sekitarmu. Tapi, kau tidak paham dengan apa yang kausukai. Inilah yang kutakutkan: kau tidak mengenal dirimu sendiri.” Dia bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkanku. Kurasa dia akan memesan minuman.
            Kualihkan kembali perhatianku memandangi keindahan danau dan pura besar yang diselubungi kabut lumayan tebal itu. Udara semakin dingin. Bukan tidak mungkin sore hari akan turun hujan.
            Telingaku menangkap suara ketukan sepatu Bli Putu dengan porselen yang mendekat, secara otomatis kualihkan pandanganku lagi kepadanya. Aku melempar pandangan tak mengerti saat Bli Putu telah duduk di kursinya. Dia membawa nampan dengan bermacam minuman kafein di atasnya. Suaraku tiba-tiba menghilang ketika tebakanku benar. Minuman-minuman itu untukku.
            Kutelan ludahku sebelum berbicara, “A… aku benar-benar tidak mengerti,”
            Dia menyeringai ke arahku. “Cobalah satu per satu! Sebentar lagi, kau akan mengetahui hal baru.” katanya meyakinkanku. Walaupun aku ragu, tapi tanpa berpikir lebih lama, kuturuti perintahnya.
            Kuulurkan tanganku meraih salah satu cangkir berisi kopi—aku tidak tahu apakah ini kopi susu atau bukan—lalu perlahan-lahan mulai menyesapnya. Mencoba merasakan rasanya yang berbeda dengan kopi hitam yang biasa kuminum. “Not bad,” ucapku sambil mengambil cangkir-cangkir lainnya.
            “Mana yang lebih kausukai?” dia sedari tadi mengamatiku sambil bersedekap. Aku menggigit bibir atasku sebelum menjawab, “Yang ini…,” aku menunjuk salah satu kopi yang masih tak kuketahui apa namanya dengan telunjukku. Yang pasti, rasanya enak sekali—menurutku.
            “Jadi…,” dia berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, “…lain kali, jika ditanya ingin memesan apa, kau harus sudah bisa menjawab.”
            “Memangnya apa minuman kesukaanku?”

            “Cappuccino.”
To be continued ...

Selasa, 25 Februari 2014

Untuk Seseorang Yang Membuatku Merasakan

Diposting oleh Unknown di 23:16
Seseorang yang datang
Selalu memberi sebuah arti
Sebuah makna baru yang tidak kumengerti

Seseorang yang pergi
Selalu meninggalkan sebuah arti
Sebuah makna yang masih tidak kumengerti

Aku tahu,
Aku tidak perlu mengerti
Atau bahkan memahami
Karena seseorang itu
Tidak akan membiarkanku mengerti
Juga tidak akan membiarkanku memahami
Dia hanya membiarkanku
Merasakan ...
Bagaimana mencintai seorang anak Adam
Seperti dirinya ...

Surabaya, 20 Februari 2014—10:08
DianAgs

Minggu, 26 Januari 2014

Fate

Diposting oleh Unknown di 21:51

"Aku percaya bahwa jika kita bertemu sekali, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu lagi."

Jumat, 10 Januari 2014

Seeing you from afar is enough

Diposting oleh Unknown di 23:28
“Aku tidak pernah menganggap ini takdir. Aku hanya menyukaimu, dan semuanya terjadi di luar kendaliku.”

Aku menyukai seseorang. Sebut dia istimewa. Tapi aku tidak akan mengejarnya. Bagiku, melihatnya dari jauh sudah cukup. Asal tak ada permasalahan di antara kita, aku tidak akan berbuat lebih jauh. Hanya, jika boleh aku meminta, kumohon jangan ada kata ‘saling menyakiti’ walaupun dari jauh.


Gresik, 10 Januari 2014—23:25 PM

I'm only an option, don't you?

Diposting oleh Unknown di 23:12
Pipinya memanas. Tapi ia tidak bisa merasakan perih bekas tamparan laki-laki itu di pipinya. Di dalam sini jauh lebih perih, di hatinya. Laki-laki itu benar-benar menamparnya di hadapan banyak orang tanpa mempedulikan bagaimana itu bisa saja melukai perasaannya.
            “Kita impas! Kau juga berkhianat!” cetus laki-laki bernama Sean itu. Laki-laki yang baru seminggu yang lalu putus hubungan dengannya.
            Gadis itu tidak membalas ucapan Sean, melainkan hanya menatap laki-laki itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dengan raut marahnya. Itu hanya kedok. Ia benar-benar merasa hancur ketika dituduh seperti itu. Terlebih orang yang menuduhnya berkhianat adalah orang yang masih dijadikan harapan untuknya.
            “Awalnya aku ingin mengajakmu kembali lagi kepadaku, aku ingin mengaku salah. Tapi apa yang kulihat hari ini telah membuktikan bahwa selama ini aku benar. Kau memang tidak pantas untuk dipertahankan!”
            Setetes air matanya jatuh. Ucapan itu terlalu menyakitkan. Seolah-olah dalam keadaan seperti ini hanya ia saja yang bersalah. Ia masih tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sean karena memang tidak ada gunanya. Laki-laki itu telah banyak berubah, ia benar-benar telah kehilangan Sean-nya yang dulu. Namun ia cukup tahu diri, ia tidak ingin berharap Sean-nya kembali.
            “Sean, aku tidak tahu mengapa aku harus menjadikanmu satu-satunya saat aku hanya kaujadikan sebagai pilihan? Egois!” gadis itu terus meneguhkan hatinya, show must go on.
            “Tapi mengapa harus dia, Sella? Mengapa kau kembali pada musuhku?” Sean masih bertahan dengan tatapan sinisnya saat ia menunjuk ke arah laki-laki lain yang berdiri tak jauh dari mereka berdiri. Sella sempat melupakan keberadaan Abiel di dekatnya. Pandangan tak kalah sinis juga dihujamkan Abiel pada Sean. Laki-laki itu semakin gusar saat Sean mengucap kata ‘musuh’ sebagai kata ganti namanya.
            “Musuhmu bukan berarti musuhku!” Sella menyeka lagi air mata yang sudah jatuh sebelum melanjutkan perkataannya. “Mengapa kau bertanya begitu? Bukankah aku tidak pernah bertanya alasanmu berselingkuh dengan kakakku?”
            Sella sangat sadar bahwa perkataannya cukup menyentil Sean. Terbukti saat Sean tidak balas menyanggah perkataannya seperti biasanya. Mengingat sifat alami Sean yang tidak mau kalah dan disalahkan.

            “Sekali lagi, kau egois, Sean!” Setelahnya, Sella benar-benar meninggalkan Sean yang masih terdiam kaku.

Kamis, 26 Desember 2013

Review 'Asmara di Atas Haram'

Diposting oleh Unknown di 15:50
Judul: Asmara di Atas Haram
Penulis: Zulkifli L. Muchdi
Jumlah Halaman: 460
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Erlangga

SINOPSIS

Yasser Al Banjary hanya hidup bersama ibu dan adiknya. Sepeninggal ayahnya, Yasser menjadi mandiri, kemandiriannya membawa ia memenangkan lomba baca Al-Qur’an Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). Suatu saat ibunda Yasser sakit dan membutuhkan biaya untuk operasi, pada saat itu Yasser hanya memiliki uang sebesar 2 juta rupiah. Sedangkan biaya yang dibutuhkan sebesar 60 juta. Yasser yang berprofesi sebagai wartawan freelance Harian Umum Banjarmasin Post di kota ini, kaget bukan kepalang saat mengetahui di rekeningnya terdapat kucuran dana Rp. 5 miliar.

Dana yang tidak diketahui asal-usulnya itu tak membuat Yasser senang, tapi marah. Malah, dia berencana untuk klaim kepada manajemen bank yang dianggapnya bekerja tidak profesional. Menurutnya uang itu adalah dana haram hasil pencucian uang yang sengaja dikucurkan kepada nasabah dengan motif tertentu. Nyawa ibunya memang tidak tertolong, namun sejak kejadian itu Yasser dikenal sebagai ”lelaki berjilbab“, yakni seseorang yang melindungi kepala alias pikirannya dari tindakan jahat, seorang rakyat kecil yang menolak mati-matian uang yang nyasar ke rekeningnya!

Jalan hidup cinta Yasser diwarnai oleh beberapa wanita cantik yang hadir dalam kehidupannya seperti Istiqomah seorang qariah yang sejak lama menyukai Yasser, kemudian hadir Sofia anak orang kaya yang pernah menjadi murid dari Yasser, kemudian ada pula Eva dan Sofia yang turut mewarnai jalan cintanya. Lalu siapakah yang dipilih laki-laki berjilbab ini?

REVIEW 'ASMARA DI ATAS HARAM'

Awalnya, saya ragu bisa menyelesaikan novel setebal 460 halaman itu, sebenarnya bukan masalah banyaknya halaman, namun karena saya belum pernah membaca novel yang khusus membahas tentang detil-detil haji seperti novel ‘Asmara di Atas Haram’. Jujur, saya sangat bersimpatik dengan nama tokoh utama dalam novel ini, Yasser Al-Banjary. Yasser yang berarti wealth atau kekayaan.
Saya mengatakan novel ini cukup ‘berisi’. Mengapa? Karena banyak yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari novel ini. Walaupun saya rasa, sedikit mustahil menemukan sosok Yasser Al-Banjary di kehidupan nyata kita. Sosok pemuda yang tampan—seperti yang digambarkan oleh Penulis—juga berakhlak mulia (bayangkan, pemuda mana yang akan menolak uang senilai Rp. 5 Miliar nyasar ke rekeningnya?).
Melalui novel ini, rasa-ingin-pergi-ke-Baitullah saya muncul semakin dalam. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana Penulis berhasil membuat Ka’bah tiba-tiba berada di kepala saya. Kisah cinta antara Yasser dan Isti yang sesuai syari’at islam juga menambah ‘manis’ novel ini.
Well, kembali lagi, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, seperti novel ini. Menurut saya, novel ini terlalu banyak membahas soal haji, hampir mendetil. Membuat saya beberapa kali melewati halaman-halaman yang berisi doa-doa yang saat haji yang tidak mungkin saya hafalkan waktu membacanya.
Tapi ada satu kutipan yang patut kita renungkan, saya benar-benar berhenti di halaman ini ketika membaca kutipan tersebut berbunyi:
“Apa kita tidak malu pada Rasulullah SAW yang telah mempertaruhkan nyawa demi tegaknya islam, sementara kita mengabaikan apa yang telah diperjuangkannya? Bukankah sholat itu tiang agama?”—Halaman 103

3,5/5 bintang untuk novel ini! =’))


Gresik, 26 Desember 2013
DianAgs

Sabtu, 21 Desember 2013

Inspired by. Filosofi Kopi (Dee)

Diposting oleh Unknown di 11:06

Aku pernah bermimpi berdiri di belakang meja panjang—berisi deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas, poci, dan bush kettle—dengan kedua tangan menari bersama mesin. Memandangi serbuk hitam itu sembari menghirup aroma sedapnya yang menempel di setiap dinding kafe. Aku pernah bermimpi menjadi seorang peramu kopi, sebut saja barista.
            K-o-p-i. Sudah ribuan kali aku memikirkan sihir apa yang dimiliki serbuk hitam beraroma sedap itu—yang kerap kali membuatku tergila-gila. Satu kata yang membuatku kalap demi mengetahui takaran paling pas untuk membuat caffe latte, cappuccino, espresso, Russian coffee, irish coffee, macchiato, dan yang lainnya.
            Membuka kedai kopi sendiri, aku sudah memikirkannya sejak lama. Namun beberapa pertimbangan kembali menyurutkan niatku. Salah satunya adalah karena restu orang tua—yang satu ini aku tidak mendapatkannya. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa seorang wanita sangatlah tidak cocok menjadi barista. Aku benar-benar tidak setuju, memangnya apa masalahnya?
            Tapi, kembali lagi, restu orang tua adalah restu Sang Khalik.
            Katakan padaku, sekarang aku harus bagaimana?
***
Aku pernah bermimpi, sebelah tanganku memegang cangkir berisi foam dan tangan yang lainnya menggenggam lengan cangkir berisi kopi. Dan dengan kemampuan juga kelihaian tanganku, menciptakan latte art yang berbeda di setiap cangkirnya. Lihatlah, wahai Ayah, Ibu, seorang barista juga mengenal seni.
Tapi, Ayah, apabila aku ditanya kopi apa yang paling kusuka, maka aku akan langsung menjawab: “Aku menyukai kopi tubruk.”
            Dan apabila Ayah menanyaiku ‘mengapa?’ maka akan kujawab sambil tersenyum membayangkan aroma kopi tubruk yang menimbulkan candu untukku: “Sederhana, lugu, tapi memikat. Terutama aromanya.”
            Aku pernah membayangkan bagaimana Ayah akan datang ke kedai kopi milikku saat makan siang tiba. Kemudian Ayah akan memintaku untuk meramukan secangkir cappuccino dengan dark rosetta sebagai latte art-nya. Ayah akan menyukainya, bukan?
            Dengan dua cangkir kopi yang masing-masing berisi cappuccino dan kopi tubruk, kita akan menyesap kopi bersama-sama, membicarakan tentang hal-hal yang akan menghangatkan suasana sampai sore tiba.
            Tahukah Ayah, bahwa ketika kita saling bercerita kita akan semakin dekat? Berawal dari kopi, Ayah. Kopi juga bisa membuat hubungan kita menjadi lebih dekat.
            Bukankah itu bagus, Ayah?
***
Aku pernah bermimpi, ketika Ibu berkumpul bersama teman lama lalu membicarakan tentang anaknya masing-masing. Ketika yang lainnya sibuk memuji anaknya, Ibu akan tersenyum karena mengingatku. Mengingatku yang tersenyum dibalik mesin kopi dan dengan kedua tangan membuat buih yang mengapung di atasnya.
Lalu aku akan berteriak lantang, “Ibu, kopinya sudah siap! Oh, ya, aku membuat bentuk baru hari ini, apakah Ibu ingin melihatnya?”
Kemudian teman-teman Ibu akan bertanya, apakah aku membuat Ibu bangga? Dengan mantap, Ibu akan menjawab, “Dia berbeda dengan caranya—bayangkan, dia adalah seorang barista. Dia mahir meracik kopi, dan aku amat bangga padanya.”
Tahukah Ibu, berbeda itu istimewa? Aku ingin menjadi berbeda dengan caraku, Ibu. Menjadi seorang barista juga bukan hal yang tabu, justru dengan itu aku bisa menjadi istimewa—karena aku berbeda.
Benar, kan, Bu?
***
Hari itu, aku bermimpi bertemu dengan seorang barista andal bernama Aiden. Dia yang menemukan terobosan baru, menjadikan salah satu kedai kopi di kotaku sebagai magnet baru. Aiden membuatku penasaran, dia benar-benar seperti magnet.
Malam berikutnya, aku bertekad untuk mengunjungi kedai kopi miliknya. Aku ingin berbincang lebih dalam dengannya, mengenai kopi—tentu saja. Sudah kuduga, aku akan kesulitan mencari waktu yang tepat karena Aiden sangat sibuk sepanjang hari.
            Akhirnya kami sepakat, pukul sepuluh malam. Itu kali pertamanya aku minum kopi panas dengannya. Dengan Aiden, Si Barista Andal.
***
Saat aku datang, kafe sudah sepi. Hanya ada dua pelanggan yang masih duduk di kursi masing-masing. Salah seorang di antaranya tampak sedang mengobrol dengan Aiden. Yang kulihat di sini, Aiden adalah orang yang ramah. Aku bersyukur tentang satu hal itu.
            Mendengar pertanyaan pelanggan itu, aku tersenyum. Pelanggan itu bertanya, “Apa ciri khas cappuccino?” Jawabannya mudah saja, penampilannya. Meski penampilannya cukup mirip dengan caffe latte, untuk cappuccino memang dibutuhkan standar penampilan yang tinggi. Mengapa? Karena seorang penikmat cappuccino sejati, akan memerhatikan penampilannya. Apabila tidak terkonsep, bisa memengaruhi suasana hati penikmatnya. Itu opiniku.
            Beberapa menit berikutnya, aku sudah duduk dengan kopi panas yang masih mengepul uapnya bersama Aiden. Mataku mengedarkan pandangan, lantai dan dinding kafe tersebut terbuat dari kayu merbau yang berurat kasar. Di sepanjang dinding kafe ditempeli poster-poster kopi dengan bermacam pose. Puncaknya, sebuah plat besar yang menempel di dekat meja panjang barista, yang berisi tulisan model lama menggunakan Bahasa Belanda:
Adn Koffie
Keningku berkerut samar. Adn?
            “Adn. Nama salah satu surga. Selamat datang di surgaku!” Seorang laki-laki berseru. Suara Aiden. Aku menoleh, lalu tersenyum ke arah Aiden. Alunan musik klasik yang menenangkan, dengan kombinasi aroma berbagai macam kopi yang memabukkan. Benar, tempat ini adalah surga bagi para penggila kopi, sepertiku.
            Aku lalu bercerita kepadanya, tentang kecintaanku terhadap kopi. Aiden mendengarkanku dengan seksama, sekali-kali dia mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai respon. Kemudian aku sadar bahwa aku terlalu banyak bercerita ketika aku mulai megap-megap, seperti ikan yang mulai kehabisan napas. Ini gila, aku belum pernah se-antusias ini saat bercerita.
            “Oh, ya, satu lagi. Aku benar-benar ingin menjadi seorang barista, Aiden. Ya, sepertimu,” Selanjutnya aku berhenti berbicara, tenggorokanku seperti terlilit sekarang.
            Perhatianku teralih pada kopi panas di depanku. Kupejamkan mataku, membiarkan indra perasaku mengambil alih hal ini. Cuping hidungku mengembang, menghirup dalam-dalam kepulan asap yang mengepul dari cangkirnya. Merasakan aroma khasnya mengontaminasi udara di sekitar hidungku. Ini espresso, aku hafal aromanya.
            Aku kembali membuka mata ketika suara Aiden sampai di telingaku. “Kamu bisa menjadi barista, Lillit,” katanya penuh teka-teki. Keningku berlipat, tidak mengerti.
            “Ikut aku.” Setelah mengatakan itu, Aiden berjalan meninggalkan kursinya menuju meja panjang di dekat plat besar. Tempat itu nyaris membuatku melompat saking gembiranya. Bayangkan, tempat keramat itu—Meja barista!
***
Aku memerhatikannya, kedua tangan Aiden yang menari bersama mesin, deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas, dan segala macam perkakas di meja panjang itu.
            Di tangan kirinya, tergenggam cangkir putih yang sepertiga dari isinya berisi kopi. Aku yakin sekali, Aiden akan membuat latte art, proses yang paling kusuka. Tapi ternyata dugaanku salah, Aiden menyerahkan cangkir itu kepadaku. Aku menatapnya tak mengerti, namun Aiden hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Hari ini, aku menantangmu untuk membuat latte art,” katanya.
Mataku berpendar-pendar, seolah sebuah semangat baru telah disuntikkan ke dalam darahku. Aku menerima tantangan itu, setidaknya aku akan membuktikan pada Aiden, aku juga layak menjadi seorang barista.
***
Otakku kembali memutar kejadian beberapa menit yang lalu, ketika Aiden menonton aksiku membuat latte art. Awalnya aku kebingungan, berhadapan langsung dengan kopi dan foam membuatku sulit berpikir. Yang kupikirkan saat itu hanyalah, bagaimana aku bisa memberikan seni pada kopi yang masih polos itu.
            Saat ini, di hadapanku terdapat karya latte art perdanaku. Latte art yang sederhana—berbentuk hati yang apik. Rasanya, aku ingin memuseumkan kopi itu sekarang juga.
            Aku masih mengingat betul kata-kata Aiden yang rasanya patut untuk kugarisbawahi. Secara tidak langsung, Aiden telah memberiku semangat saat mengatakannya, “Kamu tahu? Ketika kamu sedang bernyanyi, maka kamu telah menjadi seorang penyanyi. Dan ketika kamu sedang meramu kopi dan membuat latte art di atasnya, kamu telah menjadi seorang barista.”
            Kejadian ini seperti menarikku kembali ke realita. Membuatku sadar bahwa ini bukanlah ruang maya, karena semua ini nyata. Aku sedang tidak bermain imajinasi ketika aku berkenalan dengan Aiden, meramu kopi bersamanya, dan membuat latte art saat larut malam—semua ini nyata.
            Dia Aiden, orang yang baru saja mengenalku dan percaya dengan mimpiku, mendukungku untuk terus meraih mimpi itu. Menjadi seorang barista, ini yang kuimpikan sejak dulu. Ayah, Ibu, Aiden telah membuktikan bahwa aku bisa menjadi seorang barista sekalipun aku wanita. Kalau begitu, bukankah dia hebat, Ayah, Ibu? Bukankah Aiden hebat?

Gresik, 15 Oktober 2013—10:29

—Selesai—


I'm tired

Diposting oleh Unknown di 10:45

"Menyukaimu tidak pernah semudah yang kubayangkan."

Ada kalanya aku ingin berhenti, namun hati menolak. Seolah hati ini telah tunduk denganmu, membuatku sulit berpaling.
Kadang aku merasa bahagia bisa menyukai seseorang sepertimu, yang tidak hanya menawan rupa saja, tapi juga menawan akhlaknya.
Kadang juga aku merasa jengah, sampai kapan terus begini?
Ada saat di mana kita bisa begitu dekat, berbagi cerita masing-masing dan saling memahami.
Ada saat di mana kita terlalu jauh. Sadarkah kamu kalau kita justru terlihat aneh bila seperti ini? Sadarkah kamu kalau kita seperti tidak mengenal antar satu sama lain?
Aku selalu memerhatikanmu dari jauh, mengawasimu. 
Aku selalu ingin tahu tentangmu, aku tidak seperti ini sebelumnya.
Tahukah kamu, melihat dari jauh itu benar-benar tidak enak?
Aku ingin menyerah, aku lelah. 

Rabu, 02 Oktober 2013

Allahu Rabbi

Diposting oleh Unknown di 22:09
Allahu Rabbi, hari ini aku belajar tentang sebuah kepercayaan yang seseorang beri padaku. Kepercayaan yang tiba-tiba hilang karena kesalahpahaman. Bagaimana pun aku berteriak 'Bukan aku.', seiring dengan pudarnya rasa percaya itu kepadaku.
Allahu Rabbi, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui Segala Yang Terselubung, jangan tutup telinga mereka terhadapku Ya Allah, jangan tutup mata mereka terhadapku Ya Allah, dan jangan hilangkan kepercayaan yang telah mereka beri. Karena sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui atas segala yang tidak mereka ketahui.
Ridhoi setiap langkahku, tunjukkan segala yang benar--agar mereka tahu. 
Allahu Rabbi, hari ini aku belajar untuk ikhlas; bersabar--sebagaimana firman-firmanMu dalam Al-Qur'an. Tuntun aku, karena sesungguhnya aku ini adalah hambamu yang lemah dan dholim.
Tunjukkan kebenaran yang haq, jauhkan dari segala yang bathil. 
Aamiin aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Sabtu, 21 September 2013

Melepas Luka

Diposting oleh Unknown di 20:12

“Aku tidak pernah mengerti bagaimana cinta bisa sesakit ini.” Punggungmu bergetar menahan tangis. Kamu masih seperti 3 tahun yang lalu, belum matang. Aku menggeleng sambil terus memelukmu, seolah dengan bahasa tubuh itu aku menyuruhmu menangis. Kamu menurut, menangis dalam-dalam. Menangisi pria di luar sana yang telah melukaimu. Menyesali rasa sayang yang pernah hadir di antara kalian. Tapi, penyesalan selalu datang terlambat, kan?
            “Kamu salah. Benar-benar salah,” bisikku.
            Perlahan, pelukanmu mulai terurai. Mata berairmu menatapku meminta penjelasan. Aku lalu tersenyum. “Orang yang kamu pilih-lah yang menyakitimu. Bukan cinta. Karena cinta tidak pernah menyakiti.”
             Manik beningmu berkedip beberapa kali. Seolah kesunyian memberi tameng di sekitar kita. Aku mengerti arti tatapan itu. Aku salah, kamu telah mengerti—kamu sudah matang.
***
            Keningmu berkerut samar saat aku membawa sebuah balon berwarna kuning. Aku tidak berani menebak apa yang ada dalam pikiranmu saat ini. Tapi biarlah aku membantumu mengatasi ini. Aku akan membebaskanmu.
            “Balon?” tanyamu dengan kerutan yang makin dalam.
            Kutarik tanganmu perlahan mendekatiku, membiarkanmu mengambil alih benda berisi udara itu ke tanganmu. Kamu berkedip lagi. Aku tahu, kamu butuh penjelasan lebih dari senyum.
            “Kamu tidak bermaksud menghiburku dengan ini, kan?” tanyamu polos. Aku tertawa pelan, memecahkan ketegangan yang tanpa sengaja diciptakan. Aku cepat-cepat melambai, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?
            Kuraih wajahmu, memaksa mata hitam itu untuk menatapku. Kamu berkedip lagi. Aku sangat menyukai bagaimana caramu memahami—dengan berkedip. “Aku ingin kamu lepaskan balon ini,” kataku. Kamu mengangguk.
            “Aku ingin kamu melepas balon ini seperti kamu melepasnya.” Kamu membeku. Matamu terpaku. “Kamu hanya perlu memejamkan mata rapat-rapat, lalu lepaskan. Semua orang tahu ini berat, tapi percayalah ini yang terbaik." Lanjutku lagi.
            Manik itu terpejam selama beberapa saat. Setitik air matamu jatuh, aku tersenyum menahan perih. Ini benar-benar menyakitimu.
            Segalanya melambat saat perlahan balon itu terlepas dari tanganmu. Seolah himpitan dalam dadamu meledak saat itu juga, kamu menangis. Melihatmu menangis, bolehkah aku mengaku? Selama mengenalmu, aku belum pernah melihatmu menangis sedalam ini. Katakan padaku, apakah ini benar-benar menyakitimu? Apa luka yang ia buat terlalu dalam?
            Kamu jatuh terduduk, menangkup muka dengan kedua tangan—menangis di dalamnya. Aku tidak mencoba mendekat, habiskanlah dukamu. Dalam hati, aku berharap besok akan kutemui lagi senyum yang biasa terulas dibibirmu. Senyum tulus tanpa luka. Bukan pura-pura. Karena kamu telah melepasnya—melepas luka.

Gresik, 21 September 2013—8:10 PM

Sabtu, 14 September 2013

Can't wait! ;)

Diposting oleh Unknown di 21:35
Saturday, 14/9.

Minggu sore di Amsterdam Avenue, Manhattan. Jalanan sepi, sunyi. Hanya terdengar gemeresik daun-daun maple yang bergesekan dengan tanah. Ini sudah musim gugur kedua sejak aku tinggal di Manhattan. Suasananya masih sama, syahdu. Aku menyukai musim gugur beserta segala yang ada di dalamnya. Menurutku mereka indah: langit kemerahan, jalanan yang dipenuhi daun-daun momiji, cuaca yang semakin dingin setiap harinya, semuanya.
            Aku biasa menghabiskan waktu senja bersama Lucia, sahabatku. Secara fisik, dia sempurna. Mata bulat dengan iris amethyst di dalamnya, alis kecoklatan yang membingkai tebal, dahi yang datar, serta bibir tipis yang memesona. Lucia terlihat seperti boneka barbie dengan rambut kuning jagungnya yang lurus. Tidak heran bila banyak pemuda yang jatuh hati padanya, walaupun begitu dia tetap sahabatku.
            Hingga akhirnya, aku tahu bahwa laki-laki yang kusuka juga menyukainya. Walaupun tidak seperti laki-laki lain yang rela bersujud di depan Lucia agar bisa menjadi pacarnya. Ugh! Itu menjijikkan. Rheo berbeda, dia tidak menggunakan cara kampungan seperti yang lainnya. Dia bisa menarik perhatian Lucia dengan caranya. Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Lucia mulai luluh. Jangan salahkan Lucia! Dia tidak tahu apa-apa mengenai perasaanku pada Rheo. Aku yang bersalah. Aku yang bodoh. Aku akan menanggung semua efeknya; patah hati misalnya. 
            “Apa yang sedang kaupikirkan? Kau benar-benar tidak ingin bercerita padaku, hm?” suara lembutnya menembus dinding pikiranku. Lucia. Katakan padaku, apakah aku benar-benar mudah terbaca? Lucia bahkan tahu tentang keanehanku akhir-akhir ini. Padahal, aku sudah mati-matian menyembunyikannya. Benarkah aku mudah terbaca?
            “Kau tidak bosan bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja, Lucia.” kataku sambil tersenyum ke arahnya. Lucia balas tersenyum. Lihatlah! Tidak heran bila banyak laki-laki yang memujanya. Senyumnya benar-benar manis! Ah, aku berpikir, bagaimana Tuhan menciptakan Lucia dengan seindah ini?
            “Kau … aneh. Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Aku cepat-cepat menggeleng, meyakinkannya. “Sst, jangan bicarakan hal bodoh ini, Lucia. Bagaimana kalau kau saja yang bercerita? Bagaimana hubunganmu dengan … Rheo?” Aku menelan ludahku, tercekat. Kerongkonganku seperti ditusuk-tusuk jarum ketika menyebut nama itu … Rheo. Raut wajah Lucia langsung berubah senang, sudah kuduga Lucia juga menyukai Rheo. Seperti aku menyukai Rheo. Apa ini? Aku cemburu? Yang benar saja! Rheo bukan milikku! Jadi aku tidak berhak cemburu, kan?
            Lucia mulai bercerita, tentang Rheo dan segala hal yang berkaitan dengan caranya mendekati Lucia. Kadang Lucia tertawa sendiri disela-sela dia bercerita. Sebegitu senangkah? Dua orang yang kusayang bahagia, pantaskah aku merebut salah satunya? Jadi aku harus bagaimana? Benar, biar aku saja yang terluka. Satu orang yang sakit lebih baik ketimbang dua orang yang sakit, kan?
            Aku tersenyum lalu mengalihkan pandanganku dari Lucia yang masih bercerita. Aku tidak bisa menahan mataku agar tidak berkaca-kaca seperti sekarang. Aku cengeng, tapi ini benar-benar di luar kendaliku. Tapi biarlah aku menangis sekarang, yang terpenting sahabatku tidak menangis sepertiku. Lucia akan bahagia. Ya, aku tahu.
(Cuplikan "Musim Gugur Kedua" - Dian Agustin, Coming soon!)

Look

Diposting oleh Unknown di 21:04

"If you love someone, eventhough you were moving on. It always be hurt when you see them with someone else."

Just let it go

Diposting oleh Unknown di 20:58

"Kamu hanya perlu memejamkan mata rapat-rapat, lalu lepaskan. Semua orang tahu ini berat, tapi percayalah ini yang terbaik."

@dianonlydian

Kamis, 15 Agustus 2013

Untitled

Diposting oleh Unknown di 23:05
Alice, New York
            Aku begitu membenci hidupku.
            Jika ditanya mengapa aku membenci hidupku, maka aku akan langsung menjawab karena takdir yang tak pernah berpihak padaku. Kemudian, mereka—yang bertanya padaku—akan langsung mengernyitkan dahi dan tidak bertanya lebih lanjut. Ya, aku tentu tahu alasannya. Sederhana saja: mereka langsung menyimpulkan bahwa aku sudah tidak waras. Dan aku akan langsung tersenyum saat mereka menyimpulkan hal itu.
            Hei, mereka tidak sepenuhnya salah. Aku memang sering melamun dan menerawang akhir-akhir ini. Tapi jangan salah, aku tidak sedang melamunkan hal yang tidak-tidak. Aku hanya sedang memikirkan kesalahan apa yang pernah kulakukan hingga membuat laki-laki itu meninggalkanku. Aku benar-benar tidak tahu kesalahanku. Karena seingatku, aku jarang sekali melakukan hal-hal ceroboh yang dapat menyinggung perasaannya. Lalu, apa yang membuatnya meninggalkanku?
            Ibuku pernah berkata kepadaku, bahwa otakku hanyalah berisi air. Aku tidak tahu alasannya mengapa Ibuku berkata seperti itu kepadaku. Aku baru tahu alasannya ketika beberapa kali aku tidak naik kelas di sekolah dasar dan sulit mengikuti pelajaran saat di sekolah menengah. Apa karena itu dia meninggalkanku? Karena aku bodoh?

Aga, New York.
            Gemerlap lampu kota di Fifth Avenue membuatku kembali mengingatnya, mengingat gadis polos itu. Namanya Alice—dan aku sangat menyayanginya. Aku merasa menjadi laki-laki paling kejam saat meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya akan membuatnya terluka. Percayalah, aku bukanlah yang terbaik untuknya.
Mengingatnya selalu membuatku rindu dengannya, dengan tingkah polosnya yang justru membuatku semakin sulit untuk melepas diri. Karena dengan belajar menyayanginya, maka aku pun belajar bertanggung jawab atas dirinya; bertanggung jawab untuk terus melindunginya.
Dengan wajah polosnya, dia pernah bertanya padaku—aku ingat saat itu kakeknya baru saja meninggal dunia: “Mengapa orang secerewet Ibuku tidak mudah mati? Padahal kau pernah menyuruhku untuk tidak cerewet; karena itu akan memperpendek umurku. Nah, kau bisa menjelaskannya padaku, Aga?”
Sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah lengkung senyum. Terus bersamanya akan membuatku panjang umur karena selalu tersenyum. Sikap polsonya benar-benar keterlaluan. Aku sampai bertanya-tanya, berapa umurnya yang sebenarnya?
Melepasnya memang bodoh, tapi terus bersamanya akan jadi lebih bodoh
Namaku Aga. Percayalah aku bukanlah pria baik-baik. Karena aku seorang bajingan! Dan aku bangga karena itu. Bila boleh, aku ingin berterimakasih pada Ayahku yang menanamkan prinsip kalau-tidak-brengsek-maka-tidak-bisa-disebut-laki-laki terhadapku. Ternyata Ayah benar, mungkin bila perempuan sebrengsek laki-laki, mereka-lah yang akan ditakuti kaum kami—bukan sebaliknya.
Itulah alasanku meninggalkannya. Aku tidak ingin sikap brengsek yang terlanjur mengalir dalam darahku akan terus memanfaatkan kepolosannya itu. Dengar, aku memang brengsek, tapi memainkan hati perempuan bukanlah kegemaranku. Percaya padaku untuk yang satu ini. Aku cukup gantle, bukan?

Lihatlah bagaimana aku begitu mencintai hidupku.
 

About My Feelings Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea