Rabu, 02 Oktober 2013

Allahu Rabbi

Diposting oleh Unknown di 22:09
Allahu Rabbi, hari ini aku belajar tentang sebuah kepercayaan yang seseorang beri padaku. Kepercayaan yang tiba-tiba hilang karena kesalahpahaman. Bagaimana pun aku berteriak 'Bukan aku.', seiring dengan pudarnya rasa percaya itu kepadaku.
Allahu Rabbi, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui Segala Yang Terselubung, jangan tutup telinga mereka terhadapku Ya Allah, jangan tutup mata mereka terhadapku Ya Allah, dan jangan hilangkan kepercayaan yang telah mereka beri. Karena sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui atas segala yang tidak mereka ketahui.
Ridhoi setiap langkahku, tunjukkan segala yang benar--agar mereka tahu. 
Allahu Rabbi, hari ini aku belajar untuk ikhlas; bersabar--sebagaimana firman-firmanMu dalam Al-Qur'an. Tuntun aku, karena sesungguhnya aku ini adalah hambamu yang lemah dan dholim.
Tunjukkan kebenaran yang haq, jauhkan dari segala yang bathil. 
Aamiin aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Sabtu, 21 September 2013

Melepas Luka

Diposting oleh Unknown di 20:12

“Aku tidak pernah mengerti bagaimana cinta bisa sesakit ini.” Punggungmu bergetar menahan tangis. Kamu masih seperti 3 tahun yang lalu, belum matang. Aku menggeleng sambil terus memelukmu, seolah dengan bahasa tubuh itu aku menyuruhmu menangis. Kamu menurut, menangis dalam-dalam. Menangisi pria di luar sana yang telah melukaimu. Menyesali rasa sayang yang pernah hadir di antara kalian. Tapi, penyesalan selalu datang terlambat, kan?
            “Kamu salah. Benar-benar salah,” bisikku.
            Perlahan, pelukanmu mulai terurai. Mata berairmu menatapku meminta penjelasan. Aku lalu tersenyum. “Orang yang kamu pilih-lah yang menyakitimu. Bukan cinta. Karena cinta tidak pernah menyakiti.”
             Manik beningmu berkedip beberapa kali. Seolah kesunyian memberi tameng di sekitar kita. Aku mengerti arti tatapan itu. Aku salah, kamu telah mengerti—kamu sudah matang.
***
            Keningmu berkerut samar saat aku membawa sebuah balon berwarna kuning. Aku tidak berani menebak apa yang ada dalam pikiranmu saat ini. Tapi biarlah aku membantumu mengatasi ini. Aku akan membebaskanmu.
            “Balon?” tanyamu dengan kerutan yang makin dalam.
            Kutarik tanganmu perlahan mendekatiku, membiarkanmu mengambil alih benda berisi udara itu ke tanganmu. Kamu berkedip lagi. Aku tahu, kamu butuh penjelasan lebih dari senyum.
            “Kamu tidak bermaksud menghiburku dengan ini, kan?” tanyamu polos. Aku tertawa pelan, memecahkan ketegangan yang tanpa sengaja diciptakan. Aku cepat-cepat melambai, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?
            Kuraih wajahmu, memaksa mata hitam itu untuk menatapku. Kamu berkedip lagi. Aku sangat menyukai bagaimana caramu memahami—dengan berkedip. “Aku ingin kamu lepaskan balon ini,” kataku. Kamu mengangguk.
            “Aku ingin kamu melepas balon ini seperti kamu melepasnya.” Kamu membeku. Matamu terpaku. “Kamu hanya perlu memejamkan mata rapat-rapat, lalu lepaskan. Semua orang tahu ini berat, tapi percayalah ini yang terbaik." Lanjutku lagi.
            Manik itu terpejam selama beberapa saat. Setitik air matamu jatuh, aku tersenyum menahan perih. Ini benar-benar menyakitimu.
            Segalanya melambat saat perlahan balon itu terlepas dari tanganmu. Seolah himpitan dalam dadamu meledak saat itu juga, kamu menangis. Melihatmu menangis, bolehkah aku mengaku? Selama mengenalmu, aku belum pernah melihatmu menangis sedalam ini. Katakan padaku, apakah ini benar-benar menyakitimu? Apa luka yang ia buat terlalu dalam?
            Kamu jatuh terduduk, menangkup muka dengan kedua tangan—menangis di dalamnya. Aku tidak mencoba mendekat, habiskanlah dukamu. Dalam hati, aku berharap besok akan kutemui lagi senyum yang biasa terulas dibibirmu. Senyum tulus tanpa luka. Bukan pura-pura. Karena kamu telah melepasnya—melepas luka.

Gresik, 21 September 2013—8:10 PM

Sabtu, 14 September 2013

Can't wait! ;)

Diposting oleh Unknown di 21:35
Saturday, 14/9.

Minggu sore di Amsterdam Avenue, Manhattan. Jalanan sepi, sunyi. Hanya terdengar gemeresik daun-daun maple yang bergesekan dengan tanah. Ini sudah musim gugur kedua sejak aku tinggal di Manhattan. Suasananya masih sama, syahdu. Aku menyukai musim gugur beserta segala yang ada di dalamnya. Menurutku mereka indah: langit kemerahan, jalanan yang dipenuhi daun-daun momiji, cuaca yang semakin dingin setiap harinya, semuanya.
            Aku biasa menghabiskan waktu senja bersama Lucia, sahabatku. Secara fisik, dia sempurna. Mata bulat dengan iris amethyst di dalamnya, alis kecoklatan yang membingkai tebal, dahi yang datar, serta bibir tipis yang memesona. Lucia terlihat seperti boneka barbie dengan rambut kuning jagungnya yang lurus. Tidak heran bila banyak pemuda yang jatuh hati padanya, walaupun begitu dia tetap sahabatku.
            Hingga akhirnya, aku tahu bahwa laki-laki yang kusuka juga menyukainya. Walaupun tidak seperti laki-laki lain yang rela bersujud di depan Lucia agar bisa menjadi pacarnya. Ugh! Itu menjijikkan. Rheo berbeda, dia tidak menggunakan cara kampungan seperti yang lainnya. Dia bisa menarik perhatian Lucia dengan caranya. Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Lucia mulai luluh. Jangan salahkan Lucia! Dia tidak tahu apa-apa mengenai perasaanku pada Rheo. Aku yang bersalah. Aku yang bodoh. Aku akan menanggung semua efeknya; patah hati misalnya. 
            “Apa yang sedang kaupikirkan? Kau benar-benar tidak ingin bercerita padaku, hm?” suara lembutnya menembus dinding pikiranku. Lucia. Katakan padaku, apakah aku benar-benar mudah terbaca? Lucia bahkan tahu tentang keanehanku akhir-akhir ini. Padahal, aku sudah mati-matian menyembunyikannya. Benarkah aku mudah terbaca?
            “Kau tidak bosan bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja, Lucia.” kataku sambil tersenyum ke arahnya. Lucia balas tersenyum. Lihatlah! Tidak heran bila banyak laki-laki yang memujanya. Senyumnya benar-benar manis! Ah, aku berpikir, bagaimana Tuhan menciptakan Lucia dengan seindah ini?
            “Kau … aneh. Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Aku cepat-cepat menggeleng, meyakinkannya. “Sst, jangan bicarakan hal bodoh ini, Lucia. Bagaimana kalau kau saja yang bercerita? Bagaimana hubunganmu dengan … Rheo?” Aku menelan ludahku, tercekat. Kerongkonganku seperti ditusuk-tusuk jarum ketika menyebut nama itu … Rheo. Raut wajah Lucia langsung berubah senang, sudah kuduga Lucia juga menyukai Rheo. Seperti aku menyukai Rheo. Apa ini? Aku cemburu? Yang benar saja! Rheo bukan milikku! Jadi aku tidak berhak cemburu, kan?
            Lucia mulai bercerita, tentang Rheo dan segala hal yang berkaitan dengan caranya mendekati Lucia. Kadang Lucia tertawa sendiri disela-sela dia bercerita. Sebegitu senangkah? Dua orang yang kusayang bahagia, pantaskah aku merebut salah satunya? Jadi aku harus bagaimana? Benar, biar aku saja yang terluka. Satu orang yang sakit lebih baik ketimbang dua orang yang sakit, kan?
            Aku tersenyum lalu mengalihkan pandanganku dari Lucia yang masih bercerita. Aku tidak bisa menahan mataku agar tidak berkaca-kaca seperti sekarang. Aku cengeng, tapi ini benar-benar di luar kendaliku. Tapi biarlah aku menangis sekarang, yang terpenting sahabatku tidak menangis sepertiku. Lucia akan bahagia. Ya, aku tahu.
(Cuplikan "Musim Gugur Kedua" - Dian Agustin, Coming soon!)

Look

Diposting oleh Unknown di 21:04

"If you love someone, eventhough you were moving on. It always be hurt when you see them with someone else."

Just let it go

Diposting oleh Unknown di 20:58

"Kamu hanya perlu memejamkan mata rapat-rapat, lalu lepaskan. Semua orang tahu ini berat, tapi percayalah ini yang terbaik."

@dianonlydian

Kamis, 15 Agustus 2013

Untitled

Diposting oleh Unknown di 23:05
Alice, New York
            Aku begitu membenci hidupku.
            Jika ditanya mengapa aku membenci hidupku, maka aku akan langsung menjawab karena takdir yang tak pernah berpihak padaku. Kemudian, mereka—yang bertanya padaku—akan langsung mengernyitkan dahi dan tidak bertanya lebih lanjut. Ya, aku tentu tahu alasannya. Sederhana saja: mereka langsung menyimpulkan bahwa aku sudah tidak waras. Dan aku akan langsung tersenyum saat mereka menyimpulkan hal itu.
            Hei, mereka tidak sepenuhnya salah. Aku memang sering melamun dan menerawang akhir-akhir ini. Tapi jangan salah, aku tidak sedang melamunkan hal yang tidak-tidak. Aku hanya sedang memikirkan kesalahan apa yang pernah kulakukan hingga membuat laki-laki itu meninggalkanku. Aku benar-benar tidak tahu kesalahanku. Karena seingatku, aku jarang sekali melakukan hal-hal ceroboh yang dapat menyinggung perasaannya. Lalu, apa yang membuatnya meninggalkanku?
            Ibuku pernah berkata kepadaku, bahwa otakku hanyalah berisi air. Aku tidak tahu alasannya mengapa Ibuku berkata seperti itu kepadaku. Aku baru tahu alasannya ketika beberapa kali aku tidak naik kelas di sekolah dasar dan sulit mengikuti pelajaran saat di sekolah menengah. Apa karena itu dia meninggalkanku? Karena aku bodoh?

Aga, New York.
            Gemerlap lampu kota di Fifth Avenue membuatku kembali mengingatnya, mengingat gadis polos itu. Namanya Alice—dan aku sangat menyayanginya. Aku merasa menjadi laki-laki paling kejam saat meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya akan membuatnya terluka. Percayalah, aku bukanlah yang terbaik untuknya.
Mengingatnya selalu membuatku rindu dengannya, dengan tingkah polosnya yang justru membuatku semakin sulit untuk melepas diri. Karena dengan belajar menyayanginya, maka aku pun belajar bertanggung jawab atas dirinya; bertanggung jawab untuk terus melindunginya.
Dengan wajah polosnya, dia pernah bertanya padaku—aku ingat saat itu kakeknya baru saja meninggal dunia: “Mengapa orang secerewet Ibuku tidak mudah mati? Padahal kau pernah menyuruhku untuk tidak cerewet; karena itu akan memperpendek umurku. Nah, kau bisa menjelaskannya padaku, Aga?”
Sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah lengkung senyum. Terus bersamanya akan membuatku panjang umur karena selalu tersenyum. Sikap polsonya benar-benar keterlaluan. Aku sampai bertanya-tanya, berapa umurnya yang sebenarnya?
Melepasnya memang bodoh, tapi terus bersamanya akan jadi lebih bodoh
Namaku Aga. Percayalah aku bukanlah pria baik-baik. Karena aku seorang bajingan! Dan aku bangga karena itu. Bila boleh, aku ingin berterimakasih pada Ayahku yang menanamkan prinsip kalau-tidak-brengsek-maka-tidak-bisa-disebut-laki-laki terhadapku. Ternyata Ayah benar, mungkin bila perempuan sebrengsek laki-laki, mereka-lah yang akan ditakuti kaum kami—bukan sebaliknya.
Itulah alasanku meninggalkannya. Aku tidak ingin sikap brengsek yang terlanjur mengalir dalam darahku akan terus memanfaatkan kepolosannya itu. Dengar, aku memang brengsek, tapi memainkan hati perempuan bukanlah kegemaranku. Percaya padaku untuk yang satu ini. Aku cukup gantle, bukan?

Lihatlah bagaimana aku begitu mencintai hidupku.

Minggu, 11 Agustus 2013

Pria Musim Gugur

Diposting oleh Unknown di 21:38
Kalian tahu mengapa aku menyebutnya ‘Pria Musim Gugur’? Jawabannya sederhana saja: karena aku pertama kali bertemu dengannya saat musim gugur. Saat itulah pertama kali aku merasakan musim gugur di Manhattan.
      Menjadi seorang pekerja sipil, menuntut ayahku untuk selalu berpindah tempat tinggal. Aku tidak ingat ini kali keberapa kami semua pindah rumah. Sebenarnya membosankan, karena tentu saja aku tidak bisa berteman dengan orang lain lebih dari satu tahun—bahkan terkadang hanya dalam hitungan bulan saja.
      Maka dari itu, aku lebih memilih untuk tidak berteman saja. Walaupun pengaruhnya bahkan tak pernah kuduga: aku tidak bisa berbagi segala keluh-kesahku. Memendam semuanya sendiri itu tidak enak, sungguh. Dadamu akan terasa penuh sesak yang membuatmu semakin mudah marah dan tertekan.
      Saat itu—aku ingat saat itu bulan Oktober—aku hanya berjalan-jalan santai di dekat flat kami di Columbus Avenue. Sebenarnya aku merasa asing dengan daerah itu, ingatanku yang buruk membuatku enggan untuk menghafal jalan. Tapi sore itu berbeda. Entah apa yang menarikku untuk keluar flat sekadar untuk menikmati indahnya langit musim gugur yang berwarna kemerahan.
      Berjalan sendiri memang sedikit menakutkan, terlebih saat itu aku benar-benar tidak tahu jalan. Tapi dalam hati dan langkahku bergitu yakin kalau aku pasti bisa kembali ke flat sebelum malam tiba. Diiringi embusan angin, aku berjalan-jalan santai menyusuri jalanan Columbus Avenue sembari sesekali bersenandung. Ah, aku tidak akan pernah menyesali keputusanku keluar flat karena ini memang indah sekali! Wilayah Avenue yang di kanan-kirinya ditumbuhi pohon maple yang berjajar rapi. Mungkin selain saat musim semi, pohon-pohon maple itu akan semakin cantik saat musim gugur.
Ingatkan aku untuk kembali besok sore.



 

About My Feelings Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea