Kamis, 27 Februari 2014

(Bukan) Karena Denpasar Takdirku

Diposting oleh Unknown di 13:54
Aku pertama kali bertemu dengannya di hari pertama liburanku ke Bali. Ya, laki-laki yang menyelamatkan hatiku. Membuatku sembuh dari luka batin karena menjadi wanita yang tak terpilih—ah, kupikir gelar itu memang pantas untukku. Ini bukan karena aku pengecut—bukan karena aku ingin melarikan diri. Tapi, membuat batin terus menerus terluka juga tidak baik. Mungkin kata ‘menghindar’ lebih cocok untuk mengkondisikan situasiku saat ini. Walaupun aku sudah (mencoba) menerima semua ini, bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa ketika melihat mereka bersama. Aku hanya butuh waktu.
            Kebetulan, dia adalah tour guide-ku selama di Pulau Bali. Sebenarnya, ini bukan kali pertamanya aku menginjakkan kaki di Pulau Seribu Pura. Tapi entah bagaimana, kali ini aku berniat untuk menggunakan jasa tour guide. Aku memanggilnya Bli Putu. Seperti orang Bali pada umumnya: dia tampan dan manis. Pertama kali bertemu dengannya, langsung saja aku memberi nilai plus tujuh untuknya. Dia sangat ramah juga senang sekali tersenyum—aku bertanya-tanya, mengapa setiap kali melihatnya tersenyum, bibirku secara otomatis juga ikut melengkung? Penilaianku terhadapnya naik menjadi delapan setelah mengetahui dia juga mempunyai lesung pipit.
            Keadaan hatiku yang tidak begitu baik membuatku lebih banyak diam. Entah kebetulan atau bagaimana, justru Bli Putu lah yang seringkali berbicara—di luar tugasnya sebagai tour guide. Mungkin inilah yang membuatku cepat sekali akrab dengannya.
“Mengapa banyak wanita yang rela meneteskan air matanya untuk pria yang sebenarnya tak pantas ditangisi? Menurutmu bagaimana?” katanya saat itu sambil berkerut samar.
Aku justru terdiam sembari memandangi deburan ombak Pantai Kuta yang saling berkejaran. Semburat cahaya oranye berpendar-pendar dalam ingatanku. Seharusnya ini adalah momen terindah: ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Seharusnya aku bahagia karena berhasil menyaksikan matahari tenggelam di Pantai Kuta. Namun mengapa yang kurasakan hanyalah sesak? Kupejamkan kedua mataku sejenak saat hatiku kembali disesaki pilu. Aku kembali merasakan sebuah kenyataan yang lagi-lagi menamparku. Kenyataan bahwa aku adalah wanita yang tak terpilih.
Dengan seutas senyum getir yang terukir di bibir, kujawab pertanyaannya dengan sangat sederhana, “Karena mereka merasa tersakiti…,” Aku menatap udeng merah bermotif batik di atas kepalanya saat menjawab. Dia masih tidak mengerti dan memintaku untuk menjelaskan melalui gerakan matanya. “…menurutmu apa yang pertama kali mereka lakukan saat disakiti? Pergi ke kelab lalu minum cocktail?  Yang mereka percaya saat itu hanya satu: orang yang disayang telah tega melukai.”
Aku memejamkan mata lagi, mencegah air mata yang rasanya ingin jatuh. Saat itu, yang bisa kudengar hanyalah suara gemeretak hatiku yang hancur berkeping-keping. Segala kesedihan di dalam hati telah hancur menjadi debu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir melihat perubahan air mukaku. Kuangkat wajahku untuk menatapnya.
“Aku ingin mengaku … aku bukan wanita munafik yang akan bilang aku baik-baik saja. Bli, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?”
Aku tidak ingat, apakah saat itu aku memikirkan rasa malu atau tidak. Yang kuingat, hari itu aku menangis di pelukannya.
***
“Hari ini kita akan ke mana?” tanyaku sambil meneliti peta di tangan. Kuangkat mukaku karena aku tak mendengar jawaban Bli Putu. Ia tampak berpikir sambil menggosok-gosok dagunya yang licin. Seperti ada yang menggelitik ketika melihat ekspresi seriusnya itu.
            “Kau ingin ke Bedugul atau ke Tanah Lot?” gumamnya. Aku mengernyit, mengapa Bli Putu bertanya kembali kepadaku? “Maksudku, dua-duanya adalah objek yang sangat menarik. Aku ingin tahu, mana yang lebih kausukai?”
            Aku tersenyum tipis. “Kurasa, aku ingin ke Bedugul dulu.”

Karena Bedugul berada di ketinggian lebih dari seribu meter, setiap harinya objek wisata ini selalu diselimuti kabut. Selain itu, kawasan ini akan sejuk sepanjang hari.
            Keindahan alam yang tak ingin kulewatkan juga bisa dinikmati melalui jendela besar yang terbuat dari kaca sebuah kafetaria di dekat danau. Adalah yang sangat menyenangkan bila ditemani dengan minuman hangat.
            “Hari ini, biarkan aku meneraktirmu. Kau mau pesan apa?” tanyanya seperti pelayan saja. Aku mengangkat kedua alisku sambil berkata, “Terserah kau saja.”
            “Mm, begini saja, apa minuman kesukaanmu?”
            Aku mengangkat bahu, “Aku tidak tahu. Mm, aku minum apa saja.”
            “Bagaimana bisa tidak tahu? Lalu, minuman kesukaan ibumu, apa kau tahu?”
            “Tentu. Kopi hitam.”
            “Adik laki-lakimu?”
            “Mm, dia sering memesan americano. Sering sekali. Kurasa itu minuman kesukaannya,” kataku membuat ekspresi aneh di wajah Bli Putu. Aku mengernyit tidak mengerti. Memangnya aku salah bicara, ya?
            “Astaga! Lihatlah, kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri!”
            Aku tertegun. “Apa maksudmu?”
            “Kau sangat paham dengan apa yang disukai orang-orang sekitarmu. Tapi, kau tidak paham dengan apa yang kausukai. Inilah yang kutakutkan: kau tidak mengenal dirimu sendiri.” Dia bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkanku. Kurasa dia akan memesan minuman.
            Kualihkan kembali perhatianku memandangi keindahan danau dan pura besar yang diselubungi kabut lumayan tebal itu. Udara semakin dingin. Bukan tidak mungkin sore hari akan turun hujan.
            Telingaku menangkap suara ketukan sepatu Bli Putu dengan porselen yang mendekat, secara otomatis kualihkan pandanganku lagi kepadanya. Aku melempar pandangan tak mengerti saat Bli Putu telah duduk di kursinya. Dia membawa nampan dengan bermacam minuman kafein di atasnya. Suaraku tiba-tiba menghilang ketika tebakanku benar. Minuman-minuman itu untukku.
            Kutelan ludahku sebelum berbicara, “A… aku benar-benar tidak mengerti,”
            Dia menyeringai ke arahku. “Cobalah satu per satu! Sebentar lagi, kau akan mengetahui hal baru.” katanya meyakinkanku. Walaupun aku ragu, tapi tanpa berpikir lebih lama, kuturuti perintahnya.
            Kuulurkan tanganku meraih salah satu cangkir berisi kopi—aku tidak tahu apakah ini kopi susu atau bukan—lalu perlahan-lahan mulai menyesapnya. Mencoba merasakan rasanya yang berbeda dengan kopi hitam yang biasa kuminum. “Not bad,” ucapku sambil mengambil cangkir-cangkir lainnya.
            “Mana yang lebih kausukai?” dia sedari tadi mengamatiku sambil bersedekap. Aku menggigit bibir atasku sebelum menjawab, “Yang ini…,” aku menunjuk salah satu kopi yang masih tak kuketahui apa namanya dengan telunjukku. Yang pasti, rasanya enak sekali—menurutku.
            “Jadi…,” dia berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, “…lain kali, jika ditanya ingin memesan apa, kau harus sudah bisa menjawab.”
            “Memangnya apa minuman kesukaanku?”

            “Cappuccino.”
To be continued ...

Selasa, 25 Februari 2014

Untuk Seseorang Yang Membuatku Merasakan

Diposting oleh Unknown di 23:16
Seseorang yang datang
Selalu memberi sebuah arti
Sebuah makna baru yang tidak kumengerti

Seseorang yang pergi
Selalu meninggalkan sebuah arti
Sebuah makna yang masih tidak kumengerti

Aku tahu,
Aku tidak perlu mengerti
Atau bahkan memahami
Karena seseorang itu
Tidak akan membiarkanku mengerti
Juga tidak akan membiarkanku memahami
Dia hanya membiarkanku
Merasakan ...
Bagaimana mencintai seorang anak Adam
Seperti dirinya ...

Surabaya, 20 Februari 2014—10:08
DianAgs

Minggu, 26 Januari 2014

Fate

Diposting oleh Unknown di 21:51

"Aku percaya bahwa jika kita bertemu sekali, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu lagi."

Jumat, 10 Januari 2014

Seeing you from afar is enough

Diposting oleh Unknown di 23:28
“Aku tidak pernah menganggap ini takdir. Aku hanya menyukaimu, dan semuanya terjadi di luar kendaliku.”

Aku menyukai seseorang. Sebut dia istimewa. Tapi aku tidak akan mengejarnya. Bagiku, melihatnya dari jauh sudah cukup. Asal tak ada permasalahan di antara kita, aku tidak akan berbuat lebih jauh. Hanya, jika boleh aku meminta, kumohon jangan ada kata ‘saling menyakiti’ walaupun dari jauh.


Gresik, 10 Januari 2014—23:25 PM

I'm only an option, don't you?

Diposting oleh Unknown di 23:12
Pipinya memanas. Tapi ia tidak bisa merasakan perih bekas tamparan laki-laki itu di pipinya. Di dalam sini jauh lebih perih, di hatinya. Laki-laki itu benar-benar menamparnya di hadapan banyak orang tanpa mempedulikan bagaimana itu bisa saja melukai perasaannya.
            “Kita impas! Kau juga berkhianat!” cetus laki-laki bernama Sean itu. Laki-laki yang baru seminggu yang lalu putus hubungan dengannya.
            Gadis itu tidak membalas ucapan Sean, melainkan hanya menatap laki-laki itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dengan raut marahnya. Itu hanya kedok. Ia benar-benar merasa hancur ketika dituduh seperti itu. Terlebih orang yang menuduhnya berkhianat adalah orang yang masih dijadikan harapan untuknya.
            “Awalnya aku ingin mengajakmu kembali lagi kepadaku, aku ingin mengaku salah. Tapi apa yang kulihat hari ini telah membuktikan bahwa selama ini aku benar. Kau memang tidak pantas untuk dipertahankan!”
            Setetes air matanya jatuh. Ucapan itu terlalu menyakitkan. Seolah-olah dalam keadaan seperti ini hanya ia saja yang bersalah. Ia masih tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sean karena memang tidak ada gunanya. Laki-laki itu telah banyak berubah, ia benar-benar telah kehilangan Sean-nya yang dulu. Namun ia cukup tahu diri, ia tidak ingin berharap Sean-nya kembali.
            “Sean, aku tidak tahu mengapa aku harus menjadikanmu satu-satunya saat aku hanya kaujadikan sebagai pilihan? Egois!” gadis itu terus meneguhkan hatinya, show must go on.
            “Tapi mengapa harus dia, Sella? Mengapa kau kembali pada musuhku?” Sean masih bertahan dengan tatapan sinisnya saat ia menunjuk ke arah laki-laki lain yang berdiri tak jauh dari mereka berdiri. Sella sempat melupakan keberadaan Abiel di dekatnya. Pandangan tak kalah sinis juga dihujamkan Abiel pada Sean. Laki-laki itu semakin gusar saat Sean mengucap kata ‘musuh’ sebagai kata ganti namanya.
            “Musuhmu bukan berarti musuhku!” Sella menyeka lagi air mata yang sudah jatuh sebelum melanjutkan perkataannya. “Mengapa kau bertanya begitu? Bukankah aku tidak pernah bertanya alasanmu berselingkuh dengan kakakku?”
            Sella sangat sadar bahwa perkataannya cukup menyentil Sean. Terbukti saat Sean tidak balas menyanggah perkataannya seperti biasanya. Mengingat sifat alami Sean yang tidak mau kalah dan disalahkan.

            “Sekali lagi, kau egois, Sean!” Setelahnya, Sella benar-benar meninggalkan Sean yang masih terdiam kaku.

Kamis, 26 Desember 2013

Review 'Asmara di Atas Haram'

Diposting oleh Unknown di 15:50
Judul: Asmara di Atas Haram
Penulis: Zulkifli L. Muchdi
Jumlah Halaman: 460
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Erlangga

SINOPSIS

Yasser Al Banjary hanya hidup bersama ibu dan adiknya. Sepeninggal ayahnya, Yasser menjadi mandiri, kemandiriannya membawa ia memenangkan lomba baca Al-Qur’an Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). Suatu saat ibunda Yasser sakit dan membutuhkan biaya untuk operasi, pada saat itu Yasser hanya memiliki uang sebesar 2 juta rupiah. Sedangkan biaya yang dibutuhkan sebesar 60 juta. Yasser yang berprofesi sebagai wartawan freelance Harian Umum Banjarmasin Post di kota ini, kaget bukan kepalang saat mengetahui di rekeningnya terdapat kucuran dana Rp. 5 miliar.

Dana yang tidak diketahui asal-usulnya itu tak membuat Yasser senang, tapi marah. Malah, dia berencana untuk klaim kepada manajemen bank yang dianggapnya bekerja tidak profesional. Menurutnya uang itu adalah dana haram hasil pencucian uang yang sengaja dikucurkan kepada nasabah dengan motif tertentu. Nyawa ibunya memang tidak tertolong, namun sejak kejadian itu Yasser dikenal sebagai ”lelaki berjilbab“, yakni seseorang yang melindungi kepala alias pikirannya dari tindakan jahat, seorang rakyat kecil yang menolak mati-matian uang yang nyasar ke rekeningnya!

Jalan hidup cinta Yasser diwarnai oleh beberapa wanita cantik yang hadir dalam kehidupannya seperti Istiqomah seorang qariah yang sejak lama menyukai Yasser, kemudian hadir Sofia anak orang kaya yang pernah menjadi murid dari Yasser, kemudian ada pula Eva dan Sofia yang turut mewarnai jalan cintanya. Lalu siapakah yang dipilih laki-laki berjilbab ini?

REVIEW 'ASMARA DI ATAS HARAM'

Awalnya, saya ragu bisa menyelesaikan novel setebal 460 halaman itu, sebenarnya bukan masalah banyaknya halaman, namun karena saya belum pernah membaca novel yang khusus membahas tentang detil-detil haji seperti novel ‘Asmara di Atas Haram’. Jujur, saya sangat bersimpatik dengan nama tokoh utama dalam novel ini, Yasser Al-Banjary. Yasser yang berarti wealth atau kekayaan.
Saya mengatakan novel ini cukup ‘berisi’. Mengapa? Karena banyak yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari novel ini. Walaupun saya rasa, sedikit mustahil menemukan sosok Yasser Al-Banjary di kehidupan nyata kita. Sosok pemuda yang tampan—seperti yang digambarkan oleh Penulis—juga berakhlak mulia (bayangkan, pemuda mana yang akan menolak uang senilai Rp. 5 Miliar nyasar ke rekeningnya?).
Melalui novel ini, rasa-ingin-pergi-ke-Baitullah saya muncul semakin dalam. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana Penulis berhasil membuat Ka’bah tiba-tiba berada di kepala saya. Kisah cinta antara Yasser dan Isti yang sesuai syari’at islam juga menambah ‘manis’ novel ini.
Well, kembali lagi, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, seperti novel ini. Menurut saya, novel ini terlalu banyak membahas soal haji, hampir mendetil. Membuat saya beberapa kali melewati halaman-halaman yang berisi doa-doa yang saat haji yang tidak mungkin saya hafalkan waktu membacanya.
Tapi ada satu kutipan yang patut kita renungkan, saya benar-benar berhenti di halaman ini ketika membaca kutipan tersebut berbunyi:
“Apa kita tidak malu pada Rasulullah SAW yang telah mempertaruhkan nyawa demi tegaknya islam, sementara kita mengabaikan apa yang telah diperjuangkannya? Bukankah sholat itu tiang agama?”—Halaman 103

3,5/5 bintang untuk novel ini! =’))


Gresik, 26 Desember 2013
DianAgs

Sabtu, 21 Desember 2013

Inspired by. Filosofi Kopi (Dee)

Diposting oleh Unknown di 11:06

Aku pernah bermimpi berdiri di belakang meja panjang—berisi deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas, poci, dan bush kettle—dengan kedua tangan menari bersama mesin. Memandangi serbuk hitam itu sembari menghirup aroma sedapnya yang menempel di setiap dinding kafe. Aku pernah bermimpi menjadi seorang peramu kopi, sebut saja barista.
            K-o-p-i. Sudah ribuan kali aku memikirkan sihir apa yang dimiliki serbuk hitam beraroma sedap itu—yang kerap kali membuatku tergila-gila. Satu kata yang membuatku kalap demi mengetahui takaran paling pas untuk membuat caffe latte, cappuccino, espresso, Russian coffee, irish coffee, macchiato, dan yang lainnya.
            Membuka kedai kopi sendiri, aku sudah memikirkannya sejak lama. Namun beberapa pertimbangan kembali menyurutkan niatku. Salah satunya adalah karena restu orang tua—yang satu ini aku tidak mendapatkannya. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa seorang wanita sangatlah tidak cocok menjadi barista. Aku benar-benar tidak setuju, memangnya apa masalahnya?
            Tapi, kembali lagi, restu orang tua adalah restu Sang Khalik.
            Katakan padaku, sekarang aku harus bagaimana?
***
Aku pernah bermimpi, sebelah tanganku memegang cangkir berisi foam dan tangan yang lainnya menggenggam lengan cangkir berisi kopi. Dan dengan kemampuan juga kelihaian tanganku, menciptakan latte art yang berbeda di setiap cangkirnya. Lihatlah, wahai Ayah, Ibu, seorang barista juga mengenal seni.
Tapi, Ayah, apabila aku ditanya kopi apa yang paling kusuka, maka aku akan langsung menjawab: “Aku menyukai kopi tubruk.”
            Dan apabila Ayah menanyaiku ‘mengapa?’ maka akan kujawab sambil tersenyum membayangkan aroma kopi tubruk yang menimbulkan candu untukku: “Sederhana, lugu, tapi memikat. Terutama aromanya.”
            Aku pernah membayangkan bagaimana Ayah akan datang ke kedai kopi milikku saat makan siang tiba. Kemudian Ayah akan memintaku untuk meramukan secangkir cappuccino dengan dark rosetta sebagai latte art-nya. Ayah akan menyukainya, bukan?
            Dengan dua cangkir kopi yang masing-masing berisi cappuccino dan kopi tubruk, kita akan menyesap kopi bersama-sama, membicarakan tentang hal-hal yang akan menghangatkan suasana sampai sore tiba.
            Tahukah Ayah, bahwa ketika kita saling bercerita kita akan semakin dekat? Berawal dari kopi, Ayah. Kopi juga bisa membuat hubungan kita menjadi lebih dekat.
            Bukankah itu bagus, Ayah?
***
Aku pernah bermimpi, ketika Ibu berkumpul bersama teman lama lalu membicarakan tentang anaknya masing-masing. Ketika yang lainnya sibuk memuji anaknya, Ibu akan tersenyum karena mengingatku. Mengingatku yang tersenyum dibalik mesin kopi dan dengan kedua tangan membuat buih yang mengapung di atasnya.
Lalu aku akan berteriak lantang, “Ibu, kopinya sudah siap! Oh, ya, aku membuat bentuk baru hari ini, apakah Ibu ingin melihatnya?”
Kemudian teman-teman Ibu akan bertanya, apakah aku membuat Ibu bangga? Dengan mantap, Ibu akan menjawab, “Dia berbeda dengan caranya—bayangkan, dia adalah seorang barista. Dia mahir meracik kopi, dan aku amat bangga padanya.”
Tahukah Ibu, berbeda itu istimewa? Aku ingin menjadi berbeda dengan caraku, Ibu. Menjadi seorang barista juga bukan hal yang tabu, justru dengan itu aku bisa menjadi istimewa—karena aku berbeda.
Benar, kan, Bu?
***
Hari itu, aku bermimpi bertemu dengan seorang barista andal bernama Aiden. Dia yang menemukan terobosan baru, menjadikan salah satu kedai kopi di kotaku sebagai magnet baru. Aiden membuatku penasaran, dia benar-benar seperti magnet.
Malam berikutnya, aku bertekad untuk mengunjungi kedai kopi miliknya. Aku ingin berbincang lebih dalam dengannya, mengenai kopi—tentu saja. Sudah kuduga, aku akan kesulitan mencari waktu yang tepat karena Aiden sangat sibuk sepanjang hari.
            Akhirnya kami sepakat, pukul sepuluh malam. Itu kali pertamanya aku minum kopi panas dengannya. Dengan Aiden, Si Barista Andal.
***
Saat aku datang, kafe sudah sepi. Hanya ada dua pelanggan yang masih duduk di kursi masing-masing. Salah seorang di antaranya tampak sedang mengobrol dengan Aiden. Yang kulihat di sini, Aiden adalah orang yang ramah. Aku bersyukur tentang satu hal itu.
            Mendengar pertanyaan pelanggan itu, aku tersenyum. Pelanggan itu bertanya, “Apa ciri khas cappuccino?” Jawabannya mudah saja, penampilannya. Meski penampilannya cukup mirip dengan caffe latte, untuk cappuccino memang dibutuhkan standar penampilan yang tinggi. Mengapa? Karena seorang penikmat cappuccino sejati, akan memerhatikan penampilannya. Apabila tidak terkonsep, bisa memengaruhi suasana hati penikmatnya. Itu opiniku.
            Beberapa menit berikutnya, aku sudah duduk dengan kopi panas yang masih mengepul uapnya bersama Aiden. Mataku mengedarkan pandangan, lantai dan dinding kafe tersebut terbuat dari kayu merbau yang berurat kasar. Di sepanjang dinding kafe ditempeli poster-poster kopi dengan bermacam pose. Puncaknya, sebuah plat besar yang menempel di dekat meja panjang barista, yang berisi tulisan model lama menggunakan Bahasa Belanda:
Adn Koffie
Keningku berkerut samar. Adn?
            “Adn. Nama salah satu surga. Selamat datang di surgaku!” Seorang laki-laki berseru. Suara Aiden. Aku menoleh, lalu tersenyum ke arah Aiden. Alunan musik klasik yang menenangkan, dengan kombinasi aroma berbagai macam kopi yang memabukkan. Benar, tempat ini adalah surga bagi para penggila kopi, sepertiku.
            Aku lalu bercerita kepadanya, tentang kecintaanku terhadap kopi. Aiden mendengarkanku dengan seksama, sekali-kali dia mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai respon. Kemudian aku sadar bahwa aku terlalu banyak bercerita ketika aku mulai megap-megap, seperti ikan yang mulai kehabisan napas. Ini gila, aku belum pernah se-antusias ini saat bercerita.
            “Oh, ya, satu lagi. Aku benar-benar ingin menjadi seorang barista, Aiden. Ya, sepertimu,” Selanjutnya aku berhenti berbicara, tenggorokanku seperti terlilit sekarang.
            Perhatianku teralih pada kopi panas di depanku. Kupejamkan mataku, membiarkan indra perasaku mengambil alih hal ini. Cuping hidungku mengembang, menghirup dalam-dalam kepulan asap yang mengepul dari cangkirnya. Merasakan aroma khasnya mengontaminasi udara di sekitar hidungku. Ini espresso, aku hafal aromanya.
            Aku kembali membuka mata ketika suara Aiden sampai di telingaku. “Kamu bisa menjadi barista, Lillit,” katanya penuh teka-teki. Keningku berlipat, tidak mengerti.
            “Ikut aku.” Setelah mengatakan itu, Aiden berjalan meninggalkan kursinya menuju meja panjang di dekat plat besar. Tempat itu nyaris membuatku melompat saking gembiranya. Bayangkan, tempat keramat itu—Meja barista!
***
Aku memerhatikannya, kedua tangan Aiden yang menari bersama mesin, deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas, dan segala macam perkakas di meja panjang itu.
            Di tangan kirinya, tergenggam cangkir putih yang sepertiga dari isinya berisi kopi. Aku yakin sekali, Aiden akan membuat latte art, proses yang paling kusuka. Tapi ternyata dugaanku salah, Aiden menyerahkan cangkir itu kepadaku. Aku menatapnya tak mengerti, namun Aiden hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Hari ini, aku menantangmu untuk membuat latte art,” katanya.
Mataku berpendar-pendar, seolah sebuah semangat baru telah disuntikkan ke dalam darahku. Aku menerima tantangan itu, setidaknya aku akan membuktikan pada Aiden, aku juga layak menjadi seorang barista.
***
Otakku kembali memutar kejadian beberapa menit yang lalu, ketika Aiden menonton aksiku membuat latte art. Awalnya aku kebingungan, berhadapan langsung dengan kopi dan foam membuatku sulit berpikir. Yang kupikirkan saat itu hanyalah, bagaimana aku bisa memberikan seni pada kopi yang masih polos itu.
            Saat ini, di hadapanku terdapat karya latte art perdanaku. Latte art yang sederhana—berbentuk hati yang apik. Rasanya, aku ingin memuseumkan kopi itu sekarang juga.
            Aku masih mengingat betul kata-kata Aiden yang rasanya patut untuk kugarisbawahi. Secara tidak langsung, Aiden telah memberiku semangat saat mengatakannya, “Kamu tahu? Ketika kamu sedang bernyanyi, maka kamu telah menjadi seorang penyanyi. Dan ketika kamu sedang meramu kopi dan membuat latte art di atasnya, kamu telah menjadi seorang barista.”
            Kejadian ini seperti menarikku kembali ke realita. Membuatku sadar bahwa ini bukanlah ruang maya, karena semua ini nyata. Aku sedang tidak bermain imajinasi ketika aku berkenalan dengan Aiden, meramu kopi bersamanya, dan membuat latte art saat larut malam—semua ini nyata.
            Dia Aiden, orang yang baru saja mengenalku dan percaya dengan mimpiku, mendukungku untuk terus meraih mimpi itu. Menjadi seorang barista, ini yang kuimpikan sejak dulu. Ayah, Ibu, Aiden telah membuktikan bahwa aku bisa menjadi seorang barista sekalipun aku wanita. Kalau begitu, bukankah dia hebat, Ayah, Ibu? Bukankah Aiden hebat?

Gresik, 15 Oktober 2013—10:29

—Selesai—


 

About My Feelings Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea